Utsman bin Affan RA merupakan salah satu sahabat Rasulullah SAW yang dikenal karena kedermawanannya. Beliau bukan hanya memiliki kemampuan dalam perdagangan dan harta, tetapi juga menggunakan sebagian kekayaannya untuk membantu kaum Muslimin dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
Bukti yang sangat kuat mengenai hal tersebut terdapat dalam Sahih al-Bukhari 2778. Dalam riwayat itu, Utsman mengingatkan kepada para sahabat bahwa Rasulullah SAW memberikan kabar gembira bagi orang yang membeli Sumur Raumah dan bagi orang yang membekali Jaisy al-‘Usrah atau pasukan Tabuk. Utsman menyatakan bahwa beliau telah melakukan keduanya, dan para sahabat membenarkannya.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa kedermawanan Utsman bukan sekadar cerita populer. Ada riwayat hadis yang mendokumentasikan kontribusi beliau secara langsung.
Lalu, seperti apa sedekah Utsman bin Affan yang dapat menjadi teladan bagi umat Islam saat ini?
Siapa Utsman bin Affan?
Utsman bin Affan RA adalah salah satu dari sahabat Rasulullah SAW yang di jamin masuk surga. Beliau juga termasuk salah satu dari 4 khulafaur rasyidin sepeninggal Rasulullah SAW.
Dalam salah satu riwayat menyebutkan ada dua kontribusi besar Utsman bin Affan untuk kaum Muslimin: Sumur Raumah dan pembekalan pasukan Tabuk. Rasulullah SAW memberikan kabar gembira terkait dua kontribusi tersebut, dan para sahabat membenarkan pernyataan itu.
diantara bentuk dari kedermawanan Utsman bin Affan.
1. Mewakafkan Sumur Raumah untuk Kepentingan Masyarakat
Salah satu kisah paling terkenal dalam kehidupan Utsman bin Affan adalah Sumur Raumah di Madinah.
Dalam Jami’ at-Tirmidzi 3699, Utsman menyatakan bahwa sebelumnya orang yang ingin mengambil air dari Sumur Raumah harus membayar. Kemudian Utsman membelinya dan menjadikan sumur tersebut dapat dimanfaatkan oleh setiap orang baik orang miskin maupun musafir. At-Tirmidzi menilai riwayat ini hasan sahih gharib dari jalur tersebut.
Sahih al-Bukhari 2778 juga memuat pengakuan Utsman bahwa beliau membeli dan mengelola Sumur Raumah setelah Rasulullah SAW menyebut keutamaan orang yang melakukan hal tersebut.
Ini merupakan contoh penting bahwa pemberian Utsman bukan hanya berbentuk uang yang habis digunakan sekali.
Beliau mengubah kekayaan menjadi fasilitas yang terus memberikan manfaat kepada masyarakat.
Itulah salah satu karakter penting wakaf: pokok aset dipertahankan sementara manfaatnya diberikan kepada masyarakat.
2. Sedekah Utsman untuk Pasukan Tabuk
Kontribusi besar berikutnya adalah Jaisy al-‘Usrah, yaitu pasukan Tabuk yang menghadapi kondisi sulit.
Dalam Sahih al-Bukhari 2778, Utsman menyatakan bahwa Rasulullah SAW memberikan kabar gembira bagi orang yang membekali pasukan tersebut, dan Utsman menyatakan bahwa dirinya telah membekalinya. Kemudian para sahabat mengakui kebenaran pernyataan tersebut.
Jami’ at-Tirmidzi 3699 juga memuat pengakuan Utsman bahwa ketika masyarakat berada dalam kondisi sulit, beliau mempersiapkan pasukan tersebut.
Ini memperlihatkan bahwa sedekah atau infak dapat mempunyai fungsi yang sangat strategis.
Ketika masyarakat sedang menghadapi kebutuhan mendesak, harta hadir untuk menyediakan:
makanan;
kendaraan;
perlengkapan;
logistik;
dan kebutuhan lain yang diperlukan.
Jadi, kedermawanan tidak selalu berarti memberikan uang kepada individu. Membiayai kebutuhan kolektif yang mendesak juga dapat menjadi bentuk pengorbanan harta yang besar.
3. Membantu Perluasan Masjid Nabawi
Kedermawanan Utsman juga berkaitan dengan Masjid Nabawi.
Dalam Shohih Muslim, diriwayatkan bahwa ketika Utsman hendak membangun kembali atau memperluas Masjid Rasulullah SAW, beliau menghadapi keberatan dari sebagian masyarakat yang ingin mempertahankan bangunan lama. Utsman kemudian menyampaikan bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang membangun masjid untuk Allah akan mendapatkan rumah di surga.
Dalam riwayat Musnad Ahmad 420, Utsman juga menyatakan bahwa ia membeli suatu bagian untuk memperluas masjid dengan hartanya sendiri. Riwayat tersebut juga memuat kontribusinya terhadap pasukan Tabuk dan Sumur Raumah.
Dari sini terlihat bahwa kekayaan Utsman digunakan untuk membangun infrastruktur keagamaan yang manfaatnya dirasakan masyarakat luas.
4. Utsman Menggunakan Hartanya untuk Kepentingan Umum
Ketiga contoh di atas menunjukkan pola yang menarik.
Utsman tidak hanya memberikan bantuan kepada seseorang secara individual.
Beliau menggunakan hartanya untuk:
Air → kebutuhan dasar masyarakat
Pasukan → kebutuhan kolektif dalam kondisi perang
Masjid → fasilitas keagamaan dan sosial
Dengan kata lain, kedermawanan Utsman memiliki orientasi kemanfaatan publik.
Sedekah bukan hanya:
“Saya memberikan sejumlah uang.”
Tetapi juga:
“Bagaimana harta saya dapat menghasilkan manfaat yang lebih luas?”
Mengapa Sumur Raumah Begitu Istimewa?
Sumur Raumah menjadi contoh menarik karena manfaatnya tidak berhenti pada satu kali pemberian.
Otoritas Wakaf Umum Arab Saudi menjelaskan bahwa Utsman bin Affan membeli Sumur Raumah dan menjadikannya sebagai wakaf publik. Sumber tersebut menyebut bahwa sumur tersebut telah berumur lebih dari 1.400 tahun dan kemudian dikaitkan dengan pemanfaatan air serta pertanian kurma di sekitarnya.
Badan Wakaf Nasional juga menjadikan Sumur Raumah sebagai salah satu contoh sejarah wakaf Utsman bin Affan.
Tentu, ketika membahas kondisi pengelolaan wakaf tersebut pada masa modern, sebaiknya dibedakan antara fakta sejarah awal dan perkembangan pengelolaan pada masa sesudahnya.
Sedekah atau Wakaf?
Kisah Sumur Raumah sering disebut sebagai sedekah Utsman bin Affan, tetapi secara karakter fikih, tindakan tersebut lebih tepat dibahas sebagai wakaf.
Mengapa?
Karena Utsman memperoleh sebuah aset, kemudian manfaat aset tersebut diperuntukkan bagi masyarakat.
Inilah yang membuat kisah Sumur Raumah sangat penting dalam sejarah filantropi Islam.
Pelajaran dari Kedermawanan Utsman bin Affan
Kisah Utsman bukan sekadar kisah orang kaya yang banyak memberi.
Ada beberapa pelajaran yang sangat relevan dengan kehidupan sekarang.
1. Kekayaan dapat menjadi sarana ibadah
Utsman merupakan contoh bahwa seseorang dapat memiliki harta sekaligus menggunakannya untuk kepentingan agama dan masyarakat.
Memiliki harta bukan masalah.
Yang penting adalah bagaimana harta tersebut diperoleh dan digunakan.
2. Utamakan manfaat yang luas
Sumur Raumah menunjukkan konsep yang sangat menarik.
Daripada hanya memberikan bantuan yang selesai dikonsumsi, Utsman menggunakan hartanya untuk menyediakan sumber daya yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara luas.
Dalam konteks modern, prinsip serupa dapat diterapkan melalui:
wakaf air bersih;
wakaf pendidikan;
wakaf fasilitas kesehatan;
wakaf produktif;
pembangunan masjid;
atau program pemberdayaan ekonomi.
3. Jangan menunggu kaya untuk mulai berbagi
Tidak semua orang memiliki kekayaan seperti Utsman bin Affan.
Namun, tidak berarti seseorang harus menunggu kaya untuk bersedekah.
Bentuk sedekah dapat disesuaikan dengan kemampuan.
Misalnya:
Rp5.000
Rp10.000
satu kotak makanan
satu botol air
waktu untuk membantu orang lain
atau keahlian yang kita miliki.
Yang perlu ditiru bukan nominalnya semata, tetapi semangat memberi sesuai kemampuan.
4. Sedekah Dapat Menjawab Masalah Nyata
Sumur Raumah menunjukkan satu prinsip yang sangat relevan:
Cari masalah masyarakat, kemudian gunakan harta untuk membantu menyelesaikannya.
Masalah pada masa itu adalah akses air.
Maka Utsman membantu menyediakan akses air.
Pada masa sekarang, masalah bisa berbeda:
pendidikan;
kemiskinan;
kesehatan;
pangan;
air bersih;
kebencanaan;
dan pemberdayaan ekonomi.
Filantropi akan lebih bermakna ketika dana tidak hanya diberikan, tetapi dikelola untuk menjawab kebutuhan yang nyata.
5. Sedekah Tidak Selalu Bersifat Konsumtif
Kita sering membayangkan sedekah sebagai bantuan konsumsi:
uang → penerima → selesai.
Padahal kisah Utsman menunjukkan bentuk lain:
harta → aset produktif/fasilitas → manfaat berulang → masyarakat
Sumur adalah contoh yang sangat jelas.
Ini memiliki kemiripan dengan konsep wakaf produktif yang saat ini banyak dikembangkan dalam filantropi Islam.
Benarkah Utsman Bin Affan Bersedekah 1.000 Dinar, 1.000 Unta, dan 70 Kuda?
Ada banyak artikel di internet yang mencantumkan angka-angka besar mengenai kontribusi Utsman, misalnya sejumlah dinar, unta, dan kuda.
Namun, jangan menajdikan angka tersebut sebagai hadis sahih.
Teladan Kedermawanan Utsman untuk Generasi Sekarang
Kisah Utsman bin Affan masih sangat relevan bagi kehidupan modern.
Seorang pengusaha dapat menerapkan prinsip yang sama dalam bisnis dan filantropi.
Misalnya:
Dari keuntungan bisnis
Sisihkan sebagian keuntungan untuk program sosial.
Dari aset
Wakafkan aset yang bisa memberikan manfaat berkelanjutan.
Dari kemampuan
Gunakan jaringan, keahlian, dan pengalaman untuk membantu masyarakat.
Dari kesempatan
Ketika ada kebutuhan besar, jangan hanya menunggu orang lain bertindak.
Prinsipnya sederhana:
Miliki harta secara halal, kelola dengan baik, kemudian gunakan sebagian untuk menghasilkan manfaat yang lebih luas.
Kesimpulan
Sedekah Utsman bin Affan RA memberikan banyak pelajaran tentang bagaimana seorang Muslim menggunakan kekayaan untuk kepentingan umat.
Riwayat yang kuat mencatat bahwa Utsman:
membeli Sumur Raumah dan menjadikannya bermanfaat bagi masyarakat, serta membekali Jaisy al-‘Usrah pada masa sulit.
Beliau juga memiliki kontribusi dalam pembangunan/perluasan Masjid Nabawi yang tercatat dalam Sahih Muslim dan riwayat lainnya.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa kedermawanan tidak hanya tentang berapa besar uang yang diberikan, tetapi juga tentang seberapa besar manfaat yang dapat dihasilkan dari harta tersebut.
Sumur Raumah menjadi contoh yang sangat kuat: sebuah aset dapat diubah menjadi manfaat publik yang berlangsung panjang. Otoritas Wakaf Umum Arab Saudi bahkan mencatat sejarah wakaf Sumur Utsman yang telah berlangsung lebih dari 1.400 tahun.
Karena itu, teladan Utsman bin Affan bukan sekadar:
“Jadilah orang kaya yang suka bersedekah.”
Tetapi:
“Jadikan kekayaan sebagai sarana untuk menghadirkan manfaat bagi manusia.”
FAQ
Siapa Utsman bin Affan?
Utsman bin Affan RA adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang memiliki peran penting dalam sejarah Islam dan dikenal sebagai sahabat yang dermawan.
Apa bentuk kedermawanan Utsman bin Affan yang paling terkenal?
Salah satu yang paling terkenal adalah pembelian Sumur Raumah dan menjadikannya dapat dimanfaatkan masyarakat, serta kontribusinya dalam membekali Jaisy al-‘Usrah atau pasukan Tabuk. Keduanya disebut dalam Sahih al-Bukhari 2778.
Apa itu Sumur Raumah?
Sumur Raumah merupakan sumber air di Madinah yang pada masa Nabi memiliki nilai penting bagi masyarakat. Utsman membelinya dan membuatnya tersedia bagi orang kaya, miskin, dan musafir sebagaimana disebut dalam Jami’ at-Tirmidzi 3699.
Apakah Sumur Raumah merupakan wakaf Utsman bin Affan?
Ya. Sumber resmi General Authority for Awqaf Arab Saudi mencatat bahwa Utsman membeli Sumur Raumah dan menjadikannya sebagai wakaf publik.
Apa pelajaran terbesar dari kedermawanan Utsman bin Affan?
Salah satu pelajaran pentingnya adalah menggunakan kekayaan untuk menciptakan manfaat yang luas dan berkelanjutan, bukan hanya untuk kepentingan pribadi.
Referensi
Sahih al-Bukhari 2778 — pengakuan Utsman bin Affan mengenai pembelian Sumur Raumah dan pembekalan Jaisy al-‘Usrah.
Jami’ at-Tirmidzi 3699 — riwayat tentang Sumur Raumah dan kontribusi Utsman untuk Jaisy al-‘Usrah; pada halaman sumber dinilai Hasan Sahih Gharib.
Sahih Muslim 533c–533d — riwayat mengenai pembangunan/perluasan Masjid Nabawi oleh Utsman.
Musnad Ahmad 420 — riwayat tentang kontribusi Utsman terhadap perluasan masjid, Jaisy al-‘Usrah, dan Sumur Raumah.
General Authority for Awqaf, Saudi Arabia — The Caliph Uthman Bin Affan Endowment — sejarah dan perkembangan wakaf Sumur Utsman.
National Waqf — The Well of Rūmā (Bi’r Rūma) — pembahasan sejarah Sumur Raumah sebagai wakaf Utsman.

Sedekah ingat KSID. Yuk awali hari dengan sedekah. Itu jauh lebih baik

