
Berbicara tentang sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal kaya sekaligus dermawan, nama Abdurrahman bin Auf RA hampir selalu menjadi salah satu figur utama.
Beliau adalah salah satu sahabat yang mendapat kabar gembira dari Rasulullah SAW tentang sahabat yang masuk surga. Dalam Jami’ at-Tirmidzi 3747, Abdurrahman bin Auf termasuk di antara sepuluh sahabat yang disebut oleh Nabi SAW sebagai penghuni surga.
Abdurrahman bin Auf juga dikenal sebagai seorang pedagang yang berhasil. Namun, kekayaan tersebut tidak membuat beliau berhenti berbagi. Sejumlah sumber sejarah dan biografi mencatat berbagai bentuk pengeluaran hartanya untuk kepentingan kaum Muslimin dan orang-orang yang membutuhkan.
Kisah beliau memberikan satu pelajaran penting:
Menjadi kaya bukanlah terlarang. Yang menjadi persoalan adalah untuk apa kekayaan itu digunakan.
Lalu, seperti apa sedekah Abdurrahman bin Auf dan apa yang dapat kita pelajari darinya?
Siapa Abdurrahman bin Auf?
Abdurrahman bin Auf RA merupakan salah satu sahabat utama Rasulullah SAW dan termasuk golongan sahabat yang dijanjikan masuk surga dalam hadis Nabi. Jami’ at-Tirmidzi 3747 secara eksplisit menyebut nama beliau dalam daftar tersebut.
Beliau juga dikenal sebagai seorang pedagang yang sukses.
Kemampuan berdagang tersebut membuat Abdurrahman bin Auf memiliki harta yang banyak. Namun, kekayaan dalam kehidupan beliau tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi.
Berbagai riwayat menggambarkan bagaimana beliau mengeluarkan hartanya untuk membantu umat, keluarga, kaum Muslimin, dan berbagai kepentingan dakwah di jalan Allah SWT.
Menariknya, kisah Abdurrahman bin Auf bukanlah kisah seseorang yang memperoleh kekayaan lalu meninggalkan dunia. Justru sebaliknya, beliau menunjukkan bahwa seseorang dapat aktif berdagang sekaligus menjadi dermawan.
Abdurrahman bin Auf: Kaya dari Perdagangan, Dermawan dalam Pengeluaran
Salah satu pelajaran penting dari kehidupan beliau adalah bahwa Islam tidak mengharamkan seseorang menjadi kaya.
Yang menjadi perhatian adalah asal kekayaan dan cara membelanjakannya.
Riwayat biografi Abdurrahman bin Auf menggambarkan sebagian besar kekayaannya berasal dari perdagangan. Sebuah riwayat yang dinukil melalui al-Zuhri menyebut berbagai sumbangsih beliau dalam sedekah amatlah besar, diantaranya 40.000 dirham, 40.000 dinar, 500 kuda, dan sejumlah unta untuk kepentingan di dakwah jalan Allah.
Angka-angka tersebut berasal dari berbagai riwayat sejarah, sehingga sebaiknya tidak diposisikan sama dengan hadits shohih yang terdapat dalam Shohih Bukhari atau Shohih Muslim.
Namun, secara umum sumber-sumber biografi memang memberikan gambaran yang kuat mengenai kedermawanan Abdurrahman bin Auf.
Kedermawanan beliau tidak hanya berupa satu peristiwa.
Beberapa riwayat mencatat berbagai bentuk sumbangsih hartanya.
1. Mengeluarkan Sebagian Besar Hartanya
Salah satu riwayat dari al-Zuhri yang dicatat dalam sumber-sumber biografi menyebutkan bahwa pada masa Rasulullah SAW, Abdurrahman bin Auf pernah memberikan setengah hartanya, yang disebut berjumlah 4.000 dirham, kemudian memberikan 40.000 dinar pada kesempatan lainnya.
Riwayat tersebut juga menyebut kontribusinya berupa kendaraan untuk keperluan jihad di jalan Allah SWT.
Kisah ini memperlihatkan besarnya keberanian Abdurrahman bin Auf dalam mengeluarkan kekayaan untuk kepentingan agama.
Namun sekali lagi, angka tersebut merupakan riwayat sejarah yang perlu dibaca sesuai derajat sumbernya, bukan dijadikan sebagai hadis sahih tanpa penjelasan.
2. Menyumbangkan 500 Kuda dan Unta
Sumber yang sama menyebut Abdurrahman bin Auf memberikan 500 ekor kuda dan kemudian sejumlah besar unta untuk kepentingan di jalan Allah.
Riwayat lain yang dihimpun dalam literatur biografi juga mencatatkan jumlah 1.500 unta dalam salah satu kontribusinya.
Bagi masyarakat Arab pada masa itu, hewan tunggangan dan kendaraan memiliki nilai ekonomi dan militer yang besar.
Dengan memberikan aset seperti ini, Abdurrahman bin Auf bukan hanya sekadar memberikan uang tunai, tetapi mengeluarkan aset bernilai tinggi untuk kepentingan umat.
3. Memberikan Harta kepada Para Istri Nabi
Salah satu riwayat yang menarik terdapat dalam Jami’ at-Tirmidzi 3749.
Dalam hadis tersebut, Abu Salamah meriwayatkan dari Aisyah RA bahwa Aisyah menyebut Abdurrahman bin Auf telah memelihara hubungan dengan para istri Nabi melalui harta yang dijual senilai 40.000. Hadis ini tercantum dalam bab keutamaan Abdurrahman bin Auf.
Riwayat ini penting karena menunjukkan bahwa bentuk kedermawanan beliau tidak hanya berupa pemberian yang bersifat umum, tetapi juga perhatian terhadap keluarga Rasulullah SAW setelah wafatnya beliau.
4. Menyalurkan Harta untuk Kepentingan Umat
Abdurrahman bin Auf juga dikenal mengeluarkan hartanya untuk berbagai kebutuhan umat.
Sumber-sumber sejarah mencatat kontribusinya berupa uang, hewan tunggangan, serta berbagai harta lainnya untuk kepentingan kaum Muslimin.
Hal ini memberikan gambaran bahwa sedekah beliau memiliki karakter yang luas.
Bukan hanya:
“Saya punya uang, lalu saya berikan.”
Tetapi juga:
“Apa yang dibutuhkan umat dan apa yang saya miliki untuk membantu kebutuhan tersebut?”
Ini merupakan pola pikir filantropi yang sangat relevan hingga sekarang.
Kisah 700 Unta Abdurrahman bin Auf: Benarkah?
Salah satu kisah paling populer tentang kedermawanan Abdurrahman bin Auf adalah cerita tentang 700 unta yang datang ke Madinah membawa barang dagangan, kemudian seluruh rombongan unta tersebut disedekahkan.
Riwayat ini memang tercatat dalam Musnad Ahmad No. 24842 dan beberapa sumber lainnya. Riwayat tersebut menceritakan bahwa Aisyah RA mendengar suara kedatangan rombongan tersebut. Setelah diberitahu bahwa itu adalah rombongan dagang Abdurrahman bin Auf yang terdiri dari 700 unta, Aisyah menyampaikan sebuah riwayat tentang Abdurrahman bin Auf. Kemudian disebutkan bahwa beliau menjadikan rombongan tersebut untuk kepentingan di jalan Allah.
Kedermawanan Bukan Berarti Tidak Memiliki Kekayaan
Salah satu hal menarik dari Abdurrahman bin Auf adalah beliau tetap menjadi pedagang dan tetap memiliki kekayaan, tetapi tidak membiarkan kekayaan menguasai hatinya.
Ini memberikan perspektif penting.
Islam tidak mengajarkan bahwa seorang Muslim harus menjadi miskin agar dianggap zuhud.
Yang lebih penting adalah:
Harta berada di tangan, bukan di hati.
Seseorang boleh saja memiliki bisnis, aset, rumah, kendaraan, dan kekayaan lainnya selama diperoleh dengan cara yang halal serta digunakan di jalan yang benar.
Abdurrahman bin Auf menjadi salah satu contoh historis bagaimana kekayaan dapat menjadi sarana untuk menghasilkan manfaat yang luas.
Apa yang Bisa Dipelajari dari Sedekah Abdurrahman bin Auf?
Kisah Abdurrahman bin Auf bukan sekadar cerita tentang jumlah uang.
Ada beberapa pelajaran yang jauh lebih penting.
1. Kaya dan dermawan dapat berjalan bersama
Kita tidak harus memilih antara menjadi sukses secara finansial atau menjadi dermawan.
Keduanya dapat berjalan bersamaan.
Abdurrahman bin Auf menunjukkan bagaimana seseorang dapat menjadi pedagang sukses sekaligus mengeluarkan hartanya dalam jumlah besar untuk kepentingan agama dan masyarakat.
2. Kekayaan adalah amanah
Semakin besar harta yang dimiliki, semakin besar pula peluang untuk memberikan manfaat.
Harta bukan hanya untuk dinikmati sendiri.
Harta dapat digunakan untuk:
– membantu fakir miskin
– membantu keluarga
– mendukung pendidikan
– membantu korban bencana
– mendukung dakwah
– menyediakan kebutuhan masyarakat
– dan berbagai kemaslahatan lainnya.
3. Jangan takut mengeluarkan harta untuk kebaikan
Manusia secara alami cenderung takut kehilangan harta.
Namun, sedekah melatih seseorang untuk tidak menjadikan harta sebagai satu-satunya ukuran keamanan hidup.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 261 tentang perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah SWT seperti satu benih yang menghasilkan tujuh tangkai, dan masing-masing berisi seratus biji.
Ayat ini menjadi salah satu landasan utama tentang besarnya keutamaan infak di jalan Allah SWT.
Sedekah Tidak Harus Menunggu Kaya
Mungkin ada orang yang membaca kisah Abdurrahman bin Auf lalu berpikir:
“Saya tidak mungkin bersedekah sebanyak beliau karena saya bukan orang kaya.”
Justru di sinilah letak pelajaran berikutnya.
Sedekah tidak ditentukan oleh apakah seseorang memiliki kekayaan sebesar Abdurrahman bin Auf atau tidak.
Islam membuka berbagai bentuk amal.
Seseorang yang memiliki uang dapat memberikan uang.
Seseorang yang memiliki makanan dapat berbagi makanan.
Seseorang yang memiliki ilmu dapat mengajarkan ilmu.
Seseorang yang memiliki tenaga dapat membantu orang lain.
Dengan demikian, jangan menjadikan keterbatasan harta sebagai alasan untuk tidak berbuat baik.
Bagaimana Menerapkan Teladan Abdurrahman bin Auf Saat Ini?
Kita tentu tidak perlu meniru nominal sedekah beliau secara harfiah.
Yang perlu ditiru adalah prinsipnya.
1. Cari rezeki dengan cara yang halal
Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai pedagang.
Maka, salah satu teladan penting adalah membangun sumber penghasilan yang halal.
2. Jangan terlalu mencintai harta
Memiliki harta banyak bukan larangan.
Menjadikan harta sebagai tujuan hidup satu-satunya adalah persoalan yang berbeda.
3. Sisihkan penghasilan untuk berbagi
Misalnya:
Rp10.000 per hari × 30 hari = Rp300.000 per bulan.
Tidak harus sebesar itu. Gunakan nominal yang realistis sesuai kemampuan.
4. Utamakan manfaat
Jangan hanya bertanya:
“Berapa yang saya berikan?”
Tanyakan juga:
“Berapa banyak manfaat yang bisa dihasilkan dari pemberian saya?”
5. Bangun kebiasaan
Sedekah yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi budaya baik.
Bukan hanya ketika mendapat keuntungan besar.
Sedekah Abdurrahman bin Auf dan Filantropi Islam
Ada relevansi yang menarik antara kisah Abdurrahman bin Auf dan filantropi modern.
Saat ini, sedekah dapat diarahkan pada berbagai kebutuhan:
Pangan → Pendidikan → Kesehatan → Pemberdayaan → Kebencanaan → Dakwah → Infrastruktur sosial
Prinsipnya sama:
Harta digunakan untuk menghasilkan manfaat bagi manusia.
Bedanya hanya pada bentuk dan sistem pengelolaannya.
Pada zaman Abdurrahman bin Auf, bentuk bantuan banyak berupa harta, hewan, makanan, dan aset. Saat ini, seseorang dapat bersedekah melalui transfer digital, program donasi, wakaf produktif, beasiswa, bantuan kemanusiaan, dan berbagai program pemberdayaan lainnya.
Jangan Menjadikan Sedekah sebagai Transaksi Bisnis
Kisah orang kaya dan dermawan sering digunakan dalam narasi:
“Sedekah Rp1 juta pasti kembali Rp10 juta.”
Pernyataan seperti itu perlu dihindari.
Al-Qur’an dan hadis memang menjelaskan keutamaan sedekah dan infak. Namun, sedekah bukan transaksi matematis yang menjamin seseorang akan mendapatkan nominal uang tertentu.
Pelajaran yang dapat diambil dari Abdurrahman bin Auf bukanlah:
“Bersedekahlah agar cepat kaya.”
Tetapi:
“Jadikan kekayaan sebagai alat untuk mendekat kepada Allah dan memberikan manfaat.”
Kesimpulan
Sedekah Abdurrahman bin Auf RA merupakan salah satu kisah yang menggambarkan bagaimana seorang Muslim dapat memiliki kekayaan sekaligus menjadi pribadi yang sangat dermawan.
Beliau dikenal sebagai pedagang yang sukses dan termasuk dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga oleh Nabi.
Berbagai sumber sejarah mencatat kontribusi beliau dalam harta amatlah besar, termasuk pengeluaran uang, kendaraan, hewan, serta bantuan kepada keluarga Nabi dan kaum Muslimin.
Kisah 700 unta juga sangat terkenal, meskipun riwayat tersebut memiliki pembahasan terkait kualitas sanad, sehingga sebaiknya tidak disebut sebagai hadits shohih tanpa penjelasan.
Pelajaran terpenting dari Abdurrahman bin Auf bukan sekadar tentang berapa banyak harta yang beliau sedekahkan, tetapi bagaimana beliau menjadikan kekayaan tersebut sebagai sarana untuk membantu dakwah Islam dan mencari ridho Allah SWT.
Kaya bukan alasan untuk menahan harta. Miskin juga bukan alasan untuk berhenti berbuat baik.
Setiap orang dapat mengambil bagian dalam kebaikan dan perjuangan dakwah sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
FAQ
Siapa Abdurrahman bin Auf?
Abdurrahman bin Auf RA adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW dan termasuk sepuluh sahabat yang disebut langsung oleh Rasulullah SAW sebagai penghuni surga.
Apakah Abdurrahman bin Auf merupakan orang kaya?
Ya. Sumber-sumber sejarah dan biografi menggambarkan beliau sebagai pedagang sukses yang memiliki kekayaan besar.
Berapa banyak Abdurrahman bin Auf bersedekah?
Tidak ada satu angka tunggal yang tersurat sebagai total seluruh sedekah beliau. Beberapa riwayat sejarah mencatat berbagai jumlah, diantaranya 40.000 dirham, 40.000 dinar, ratusan kuda, dan sejumlah besar unta. Riwayat-riwayat tersebut sebaiknya diperlakukan sebagai sumber sejarah dengan memperhatikan kualitas sanad masing-masing.
Benarkah Abdurrahman bin Auf menyedekahkan 700 unta?
Riwayat tentang 700 unta memang tercatat dalam Musnad Ahmad dan sumber lainnya. Namun kualitas riwayat tersebut diperselisihkan dan mendapatkan kritik dari sejumlah ulama hadis, sehingga sebaiknya tidak disebut sebagai hadis shohih tanpa catatan.
Apakah menjadi kaya bertentangan dengan ajaran Islam?
Tidak. Memiliki kekayaan yang diperoleh secara halal tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Yang penting adalah kewajiban syariat ditunaikan dan harta digunakan dengan cara yang benar.
Apa pelajaran utama dari kedermawanan Abdurrahman bin Auf?
Pelajaran utamanya adalah bahwa kekayaan dapat menjadi sarana ibadah dan kemanfaatan sosial. Seorang Muslim dapat bekerja, membangun bisnis, memperoleh harta, tapi tetap menjadi pribadi yang dermawan.
Referensi
Jami’ at-Tirmidzi 3747 — hadis tentang sepuluh sahabat yang disebut sebagai penghuni surga, termasuk Abdurrahman bin Auf.
Jami’ at-Tirmidzi 3749 — riwayat tentang Abdurrahman bin Auf dan harta yang digunakan untuk menjaga hubungan dengan para istri Nabi.
Musnad Ahmad 24842 — riwayat tentang rombongan 700 unta milik Abdurrahman bin Auf; kualitas riwayat tersebut mendapat pembahasan dan kritik dari ulama hadis.
Al-Qawl al-Musaddad fi Musnad Ahmad karya Ibn Hajar — pembahasan terhadap riwayat 700 unta.
Al-Tabarani, al-Mu’jam al-Kabir 264 — salah satu sumber yang memuat riwayat 700 unta.
Riwayat al-Zuhri tentang pengeluaran harta Abdurrahman bin Auf — memuat keterangan tentang berbagai jumlah sedekah dan kontribusinya; sumber ini termasuk literatur riwayat sejarah/biografi, bukan hadis sahih dalam Shahihain.
QS. Al-Baqarah: 261–262 — tentang keutamaan infak dan adab memberikan harta.

Sedekah ingat KSID. Yuk awali hari dengan sedekah. Itu jauh lebih baik
